Press Release

Indonesia Infrastructure Finance Gandeng Asbanda Perkuat Pembiayaan Infrastruktur di Daerah

, 10 June 2016

JAKARTA-PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menjalin kerja sama dengan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) guna meningkatkan pelaksanaan program pembiayaan proyek infrastruktur. Kerja sama ini akan memperkuat IIF sebagai fungsinya menjadi katalisator dalam investasi infrastruktur hingga ke daerah-daerah.

                Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Presiden Direktur IIF Arisudono Soerono dan Ketua Umum Asbanda Kresno Sediarsi yang juga merupakan Direktur Utama Bank DKI, di sela-sela acara 2nd Annual Indonesia Infrastructure Finance Conference Euro Money dengan sponsor utama IIF, di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Selasa (24/5).

                “Nantinya IIF akan membiayai proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial melalui jaringan bank-bank pembangunan anggota Asbanda, khususnya guna mendukung pengembangan strategi pembiayaan dan jasa advisory (konsultasi) atas proyek-proyek infrastruktur baik yang diadakan oleh pemerintah, kerja sama badan usaha dan pemerintah, perusahaan milik negara maupun pembiayaan proyek infrastruktur sektor swasta,” jelas Arisudono.

                Sebagaimana mandat yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia, IIF membidik pembiayaan terhadap 8 sektor infrastruktur, yakni transportasi, jalan, pengairan, air minum, air limbah, telekomunikasi dan informatika, ketenagalistrikan, dan migas. Produk yang ditawarkan IIF mencakup pinjaman senior, pembiayaan ulang, pinjaman subordinasi, investasi ekuitas, penjaminan, pinjaman siaga, sindikasi, dan penasihat keuangan.

                Arisudono menjelaskan, sepanjang tahun 2015, perseroan telah menandatangani 10 kesepakatan pembiayaan baru dengan total komitmen pembiayaan sebesar Rp 5,6 triliun, di mana sebesar Rp 4,2 triliun di antaranya telah disalurkan. Beberapa proyek yang telah dibiayai, sebagai contoh adalah perluasan bandara internasional Soekarno Hatta, pembangunan pipa gas di Sumatera Selatan dan tol Cipali.

“Kami memiliki portofolio yang beragam dan mencakup hampir 20 proyek termasuk jalan tol, pengelola bandara dan bengkel perawatan pesawat, operator pelabuhan, infrastruktur telekomunikasi, pembangkit listrik (PLTA besar, kecil, PLTU, pembangkit listrik tenaga matahari), produsen gas dan pipa gas. Pada bidang layanan advisory, Indonesia Infrastructure Finance juga telah berhasil menjadi konsultan pendamping proyek jalan tol Trans Sumatera dan proyek pengadaan air bersih di Semarang Barat.

Pada 2015, IIF telah mencairkan pinjaman subordinasi dari Bank Dunia sebesar US$ 2,7 juta sehingga jumlah pinjaman subordinasi total adalah US$ 199,4 juta dari total fasilitas US$ 200 juta. Selain itu, IIF mendapatkan fasilitas pinjaman baru dari Bank Mandiri senilai Rp 150 miliar dari total fasilitas pinjaman Rp 1 triliun.

Ketua Umum Asbanda, Kresno Sediarsi menambahkan, kesepakatan bersama antara Asbanda dengan pihak PT IIF ini merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan Pengurus Asbanda dengan dukungan Direksi BPD seluruh Indonesia. Hal ini sejalan dengan implementasi program transformasi BPD yang bertujuan menjadikan BPD yang kompetitif, kuat dan kontributif. Asbanda bermaksud mendorong dan mengupayakan peningkatan keikutsertaan para anggotanya BPDSI untuk mendukung pelaksanaan pembiayaan proyek infrastruktur terutama proyek infrastruktur yang digalakkan Pemerintah,” jelasnya.

 

Ia menjelaskan ke depan pihaknya terus melakukan kerjasama terkait dengan pembiayaan infrastruktur untuk lebih mendorong transformasi BPD dalam penyaluran pembiayaan infrastruktur pemerintah, meningkatkan pemanfaatan sumber dana bersama antar BPD serta mengatasi permasalahan batas maksimal pemberikan kredit (BMPK)  melalui program pembiayaan bersama, serta meningkatkan kompetensi pembiayaan infrastruktur antar BPDSI.

Kresno mengungkapkan hingga 2015, BPD telah melakukan program pembiayaan bersama antara lain, proyek jalan tol milik Jasa Marga di Sumatera dan Jawa, kemudian proyek  tol Cikopo – Palimanan (Cipali)  dan beberapa proyek tol lainnya.

Dalam proyek PLN, 7 BPD bersama 2 BUMN dan PT SMI juga terlibat dalam melakukan pembiayaan sindikasi sebesar Rp 2,225 triliun untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau 2 X 110 Mega Watt. Selanjutnya 2 BPD bersama 3 bank swasta nasional telah memberikan kredit sindikasi senilai total Rp980 miliar kepada perusahaan pembiayaan multifinance dan PT Pegadaian.

 

 

Untuk Keterangan Lebih Lanjut Dapat menghubungi:

Nastantio W. Hadi                                                                                                                          Hafid Star                                                           

SVP Legal & Corporate Secretary                                                                              Manager Bisnis Asbanda

PT Indonesia Infrastructure Finance                                                                        Menara MTH Lt. 8

The Energy Building 30th Floor, SCBD Lot. 11A                                                     Jl. MT. Haryono Kav 23 Jakarta

Jakarta 12190, Indonesia                                                                                               Telp. 021 837 82420

+62 21 2991 5060 tel                                                                                                        Email: hafid_stardki@yahoo.cm

+62 21 2991 5061 fax

www.iif.co.id

 

Tentang Indonesia Infrastructure Finance:

PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) adalah perusahaan swasta khusus pembiayaan infrastruktur, yang didirikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 100/2009, dengan fokus investasi pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Keberadaan IIF untuk menjawab adanya kesenjangan dalam peranan institusi bagi pengembangan infrastruktur dan pembiayaan di Indonesia, sehingga menjadi katalisator dalam investasi infrastruktur di Indonesia.

Pemegang saham IIF dimiliki oleh lima institusi keuangan ternama, yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebesar 30%, Asian Development Bank (19,99%), International Finance Corporation (19,99%), Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (15,12%), dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (14,9%).

Tentang Asbanda:

Asosiasi Bank Pembangunan Daerah adalah  merupakan wadah pemersatu yang bertujuan mempererat hubungan kerjasama saling menguntungkan bagi 26 ( dua puluh enam)  Bank Pembangunan Daerah (BPD) di seluruh Indonesia.

Indonesia Infrastructure Finance Ditunjuk Menjadi Mandated Lead Arranger Pendanaan Proyek Palapa Ring

, 10 June 2016

JAKARTA – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) ditunjuk menjadi  Mandated Lead Arranger oleh PT LEN Telekomunikasi Indonesia. Dalam kapasitas sebagai Mandated Lead Arranger, IIF akan mengatur dan mencari pendanaan sindikasi guna membiayai pembangunan jaringan tulang punggung serat optik nasional Palapa Ring Paket Tengah.

                Penandatanganan nota kesepakatan dilakukan oleh Presiden Direktur IIF Arisudono Soerono dan Direktur Utama PT LEN Telekomunikasi Indonesia Raden Wahyu Pantja Gelora, di sela-sela acara 2nd Annual Indonesia Infrastructure Finance Conference Euro Money dengan sponsor utama IIF, di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Selasa (24/5).

                “Dengan pengalaman IIF  di bidang pembiayaan infrastruktur, penasihat keuangan, jaringan internasional yang luas, dan dukungan yang kuat dari para pemegang saham, kami yakin dapat membantu PT LEN Telekomunikasi Indonesia mendapatkan sumber-sumber pembiayaan dengan rate terbaik,” jelas Arisudono.

Palapa Ring adalah proyek pembangunan jaringan telekomunikasi yang menghubungkan seluruh wilayah Indonesia, sehingga dapat memperkecil jarak dan mempersingkat waktu berkomunikasi ke dan antar wilayah di seluruh Indonesia. Khusus untuk Proyek Palapa Ring Paket Tengah, pemerintah telah menunjuk PT LEN Telekomunikasi Indonesia untuk menghubungkan 17 kota/kabupaten di lima provinsi yang berada di wilayah tengah Indonesia, yakni Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Proyek Palapa Ring ditargetkan rampung pada triwulan ke II tahun 2018, sehingga keberadaan jaringan broadband sudah bisa dinikmati masyarakat pada triwulan ke II tahun 2018.

                Proyek Palapa Ring juga termasuk proyek yang menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau Public Private Partnership di mana ada dukungan pemerintah berbentuk penjaminan yang dikeluarkan oleh PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero). Proyek Palapa Ring ini termasuk salah satu proyek strategis pemerintah dan masuk dalam daftar proyek prioritas pemerintah.

Sebagaimana mandat yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, IIF membidik pembiayaan terhadap 8 sektor infrastruktur, yakni transportasi, jalan, pengairan, air minum, air limbah, telekomunikasi dan informatika, ketenagalistrikan, dan migas. Produk yang ditawarkan IIF mencakup pinjaman senior, pembiayaan ulang, pinjaman subordinasi, investasi ekuitas, penjaminan, pinjaman siaga, sindikasi, dan penasihat keuangan.

                Arisudono menjelaskan, sepanjang tahun 2015, perseroan telah menandatangani 10 kesepakatan pembiayaan baru dengan total komitmen pembiayaan sebesar Rp 5,6 triliun, di mana sebesar Rp 4,2 triliun di antaranya telah disalurkan. Beberapa proyek yang telah dibiayai, sebagai contoh, adalah perluasan bandara internasional Soekarno Hatta dan pembangunan pipa gas di Sumatera Selatan.

“Kami memiliki portofolio yang beragam dan mencakup hampir 20 proyek termasuk jalan tol, pengelola bandara dan bengkel perawatan pesawat, operator pelabuhan, infrastruktur telekomunikasi, pembangkit listrik (PLTA besar, kecil, PLTU, pembangkit listrik tenaga matahari), produsen gas dan pipa gas. Pada bidang layanan advisory, Indonesia Infrastructure Finance juga telah berhasil menjadi konsultan pendamping proyek jalan tol Trans Sumatera dan proyek pengadaan air bersih di Semarang Barat.

Pada 2015, IIF telah mencairkan pinjaman subordinasi dari Bank Dunia sebesar US$ 2,7 juta sehingga jumlah pinjaman subordinasi total adalah US$ 199,4 juta dari total fasilitas US$ 200 juta. Selain itu, IIF mendapatkan fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri senilai Rp 1 triliun.

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:

Nastantio W. Hadi

SVP Legal & Corporate Secretary

PT Indonesia Infrastructure Finance

The Energy Building
Sudirman Central Business District, Lot 11A
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190, Indonesia

—————–

Tentang Indonesia Infrastructure Finance:

PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) adalah perusahaan swasta khusus pembiayaan infrastruktur, yang didirikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 100/2009, dengan fokus investasi pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Keberadaan IIF untuk menjawab adanya kesenjangan dalam peranan institusi bagi pengembangan infrastruktur dan pembiayaan di Indonesia, sehingga menjadi katalisator dalam investasi infrastruktur di Indonesia.

Pemegang saham IIF dimiliki oleh lima institusi keuangan ternama, yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebesar 30%, Asian Development Bank (19,99%), International Finance Corporation (19,99%), Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (15,12%), dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (14,9%).

Tentang PT LEN Telekomunikasi Indonesia:

 PT Len Telekomunikasi Indonesia (PT LTI) adalah Badan Usaha Pelaksana (BUP) yang ditugaskan untuk melaksanakan proyek Palapa Ring Middle Package Fiber Optic Backbone Network yang kontraknya telah ditandatangani pada tanggal 4 Maret 2016 dengan bidang usaha sentral konstruksi komunikasi, konstruksi jaringan saluran elektrikal dan telekomunikasi dan bidang usaha penyelenggaraan jaringan. Berdirinya PT LTI tidak lepas dari peran Konsorsium Pandawa Lima yang memenangkan tender untuk proyek Palapa Ring Middle Package Fiber Optic Backbone Network yang kemudian bersepakat untuk mendirikan Badan Usaha Pelaksanaa (BUP) dengan komposisi Kepemilikan saham PT LTI adalah 51% oleh PT Len Industri (Persero), 39% oleh PT Teknologi Riset Global Investama, 5% oleh PT Multi Kontrol Nusantara dan 5% oleh PT Bina Nusantara Perkasa.

PT Indonesia Infrastructure Finance dan PT Kopelindo Infrastruktur Indonesia Bekerjasama dalam Pembiayaan Proyek Infrastruktur

, 9 June 2016

PT Indonesia Infrastructure Finance dan PT Kopelindo Infrastruktur Indonesia Bekerjasama dalam Pembiayaan Proyek Infrastruktur

JAKARTA-PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menjalin kerjasama dengan PT Kopelindo Infrastruktur Indonesia (Kopel Infrastruktur) di bidang pembiayaan bersama (co-financing) untuk proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Tingginya kebutuhan dan atraktifnya pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang tengah digalakkan pemerintahan saat ini mendorong IIF dan Kopel Infrastruktur menjalin kerja sama.

                Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Presiden Direktur IIF Arisudono Soerono dengan Direktur Utama Kopel Infrastruktur Herianto Pribadi, disaksikan oleh Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, Dirut Perum BULOG/Penasihat Kopelindo Djarot Kusumayakti, dan Ketua KOPELINDO Deddy SA Kodir, di Jakarta, Jumat (3/6).

                Kopel Infrastruktur adalah anak usaha dari Koperasi Pegawai dan Pensiunan BULOG Seluruh Indonesia (KOPELINDO). Kopel Infrastruktur dibentuk untuk mengerjakan proyek-proyek infrastruktur di Tanah Air, seiring potensi yang tinggi dan pesatnya pembangunan infrastruktur nasional dewasa ini. “Kiprah Kopel Infrastruktur ini menunjukan komitmen Koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan untuk turut berperan dalam pembangunan infrastruktur Indonesia,” jelas Presiden Direktur Kopel Infrastruktur Herianto Pribadi.

“KOPELINDO yang selama ini bergerak di sektor keuangan, bertujuan untuk memperkuat basis investasinya ke sektor yang sedang tumbuh pesat dan mampu memberi manfaat besar bagi masyarakat. Berdasarkan amanah yang diberikan, Kopel Infrastruktur menargetkan investasi sebesar US$ 1 miliar dalam 5 tahun ke depan. Dimana telah dianggarkan dana sebesar US$ 125 juta untuk mendukung rencana ini,” kata Herianto.

“IIF dan Kopel Infrastruktur akan mencari dan membiayai secara bersama-sama (co-financing) proyek-proyek infrastruktur di Tanah Air. Kami melihat sektor infrastruktur saat ini sangat aktraktif untuk dibiayai,” jelas Presiden Direktur IIF Arisudono Soerono. Herianto menambahkan, kerja sama dengan IIF ini sangat strategis untuk mendukung tercapainya rencana investasi Kopel Infrastruktur.

                Baik IIF dan Kopel Infrastruktur sepakat untuk bekerjasama dalam rangka pembiayaan bersama dan jasa advisory atau konsultasi untuk proyek-proyek infrastruktur di Indonesia, baik yang dibangun oleh pemerintah, kerja sama badan usaha dengan pemerintah, BUMN, BUMD, dan sektor swasta. Adapun sektor yang akan dibiayai secara bersama-sama difokuskan pada sarana dan prasarana yang dapat memperlancar mobilitas arus barang dan jasa.

                “Ada beberapa sektor yang telah kami sepakati untuk dibiayai secara bersama-sama, yakni infrastruktur transportasi, jalan, pengairan, air minum, pengolahan air limbah, infrastruktur kelistrikan, dan infrastruktur minyak dan gas bumi maupun sektor-sektor lain,” kata Arisudono.

                Sektor-sektor tersebut akan dibiayai baik melalui investasi ekuitas, mezzanine, pinjaman subordinasi, sindikasi ataupun club deal yang sesuai dengan kebutuhan pasar terhadap proyek infrastruktur yang layak secara komersial untuk dibiayai. Selain itu, IIF dan Kopel Infrastruktur bekerjasama juga di bidang pemberian jasa advisory atau konsultasi kepada pemerintah daerah, BUMD, BUMN, dan pihak swasta dalam menentukan dan melaksanakan skema pengembangan dan pembiayaan infrastruktur yang layak dan tepat.

                Sebagaimana mandat yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia, IIF membidik pembiayaan terhadap 8 sektor infrastruktur, yakni transportasi, jalan, pengairan, air minum, air limbah, telekomunikasi dan informatika, ketenagalistrikan, dan migas. Produk yang ditawarkan IIF mencakup pinjaman senior, pembiayaan ulang, pinjaman subordinasi, investasi ekuitas, penjaminan, pinjaman siaga, sindikasi, dan penasihat keuangan.

                Arisudono menambahkan, sepanjang tahun 2015, IIF telah menandatangani 10 kesepakatan pembiayaan baru dengan total komitmen pembiayaan sebesar Rp 5,6 triliun, di mana sebesar Rp 4,2 triliun di antaranya telah disalurkan. Beberapa proyek yang telah dibiayai, sebagai contoh adalah perluasan bandara internasional Soekarno Hatta, pembangunan pipa gas di Sumatera Selatan dan tol Cipali.

“Kami memiliki portofolio yang beragam dan mencakup hampir 20 proyek termasuk jalan tol, pengelola bandara dan bengkel perawatan pesawat, operator pelabuhan, infrastruktur telekomunikasi, pembangkit listrik (PLTA besar, kecil, PLTU, pembangkit listrik tenaga matahari), produsen gas dan pipa gas. Pada bidang layanan advisory, IIF juga telah berhasil menjadi konsultan pendamping proyek jalan tol Trans Sumatera dan proyek pengadaan air bersih di Semarang Barat.

Arisudono melihat, ke depan, sektor infrastruktur akan berperan vital dalam menopang pertumbuhan perekonomian nasional. Keseriusan pemerintah dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur juga terlihat dari anggaran infrastruktur dalam APBN yang terus meningkat, yakni dari Rp 138 triliun pada 2014 menjadi Rp 178 triliun pada 2016 dan ditargetkan dalam RAPBN 2017 naik kembali menjadi Rp 312 triliun. Pemerintah juga telah memperkuat PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)(SMI), salah satu pemegang saham IIF. Ke depan, peranan SMI dan IIF sangat vital dan krusial dalam proses transformasi perekonomian dan akselerasi proyek-proyek infrastruktur di Tanah Air.

***

Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:

Nastantio W. Hadi                                                         

 

SVP Legal & Corporate Secretary

The Energy Building 30th Floor, SCBD Lot. 11A

Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 36

Jakarta 12190, Indonesia

+62 21 2991 5060 tel

+62 21 2991 5061 fax

Kennard Sohan

 

Business Development

Gedung Perkantoran Plaza Semanggi, Lantai 15

Jalan Jendral Sudirman Kav. 50

Jakarta,12930

+62 21 252 0079 tel

+62 21 252 0080 fax

Tentang Indonesia Infrastructure Finance:

PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) adalah perusahaan swasta khusus pembiayaan infrastruktur, yang didirikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No 100/2009, dengan fokus investasi pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Keberadaan IIF untuk menjawab adanya kesenjangan dalam peranan institusi bagi pengembangan infrastruktur dan pembiayaan di Indonesia, sehingga menjadi katalisator dalam investasi infrastruktur di Indonesia.

Pemegang saham IIF dimiliki oleh lima institusi keuangan ternama, yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebesar 30%, Asian Development Bank (19,99%), International Finance Corporation (19,99%), Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (15,12%), dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (14,9%).

Tentang KOPELINDO:

Koperasi Pegawai dan Pensiunan BULOG Seluruh Indonesia atau disingkat KOPELINDO berdiri pada 25 Maret 1999 dengan tujuan mengembangkan potensi ekonomi dan sosial koperasi-koperasi primer di lingkungan Perum BULOG seluruh Indonesia. Saat ini, Kopelindo beranggotakan 27 koperasi primer dengan total aset per Desember 2015 sebesar Rp 2,68 triliun. Selain memiliki investasi di Bank Bukopin dengan kepemilikan saham sebesar 18,09%,  Kopelindo juga memiliki unit usaha di bidang asset management, outsourcing tenaga kerja, pengembangan properti, pengangkutan batubara, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan, dan perhotelan, pengangkutan komoditas pangan, pengembangan hunian high rise, konsultan dan jasa pelatihan information technology, dan investasi proyek pembangunan infrastruktur melalui PT Kopel Infrastruktur Indonesia.

 

Tentang Kopelindo Infrastruktur Indonesia

Kopelindo Infrastruktur Indonesia atau dikenal dengan Kopel Infrastruktur merupakan anak usaha dari Kopelindo. Kopel Infrastruktur bergerak di bidang investasi proyek pembangunan infrastruktur terutama di bidang transportasi dan energi, seperti pembangkit listrik, pipa penyaluran suplai air dan gas, pengilangan gas, pembangunan ruas tol, dan lain-lain.

 

IIF Terbitkan Obligasi I Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2016 Sebesar Rp 2 Triliun

, 9 June 2016

Jakarta, 8 Juni 2016 – PT Indonesia Infrastructure Finance (“IIF” atau “Perseroan”) suatu perusahaan Pembiayaan Infrastruktur di Indonesia, hari ini akan menggelar Due Diligence Meeting dan Public Expose dalam rangka Penawaran Umum Obligasi I Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2016.

Perseroan memiliki struktur permodalan yang kuat yang berasal dari dukungan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)(“SMI”) (30%), International Finance Corporation (“IFC”) (19,99%), Asian Development Bank (“ADB”)(19,99%), DEG – Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (“DEG”)(15,12%) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (“SMBC”)(14,90%) sebagai pemegang saham Perseroan.

Arisudono Soerono selaku Presiden Direktur Perseroan menjelaskan “Saat ini Perseroan menyediakan layanan produk fund based seperti pinjaman senior, pinjaman subordinasi, mezzanine dan penyertaan modal yang tersedia dalam mata uang Rupiah (IDR) dan Dollar Amerika Serikat (USD) di samping beberapa produk non fund based seperti penjaminan dan layanan lain berbasis fee. Di samping itu, Perseroan menyediakan jasa pemberian nasihat (advisory) atau konsultasi keuangan dan transaksi proyek bagi pemerintah ataupun investor lokal maupun asing dengan tujuan memfasilitasi investasi sektor swasta di pembangunan infrastruktur.

Produk dan layanan Perseroan tersebut di atas diharapkan dapat menjadi solusi alternatif pembiayaan di luar perbankan bagi kebutuhan pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia sehingga negara ini dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Lebih lanjut Arisudono Soerono mengatakan ,”Misi kami adalah menjadi katalisator dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia dan meningkatkan partisipasi swasta dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia.”

Sebagaimana mandat yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 100/PMK.010/2009, Perseroan membidik pembiayaan terhadap 8 sektor infrastruktur, yakni transportasi, jalan, pengairan, air minum, air limbah, telekomunikasi dan informatika, ketenagalistrikan, dan minyak & gas.

Saat ini Perseroan memiliki portofolio yang beragam dan mencakup hampir 20 proyek termasuk jalan tol, pengelola bandara dan bengkel perawatan pesawat, operator pelabuhan, infrastruktur telekomunikasi, pembangkit listrik (PLTA besar, kecil, PLTU, pembangkit listrik tenaga matahari), produsen gas dan pipa gas. Pada bidang layanan advisory, Perseroan juga telah berhasil menjadi konsultan pendamping proyek jalan tol Trans Sumatera dan proyek pengadaan air bersih di Semarang Barat.

Obligasi yang diterbikan oleh Perseroan memiliki 3 seri, yaitu Seri A (3 tahun), Seri B (5 Tahun), dan Seri C (7 Tahun). Perseroan telah memperoleh hasil pemeringkatan efek dari PT Fitch Ratings Indonesia(“Fitch”) PT Pemeringkat Efek Indonesia(“Pefindo”) dengan rating AAA (idn) (TRIPLE A) dan idAAA (TRIPLE A)

Obligasi ini ditawarkan dengan nilai 100% (seratus persen) dari Jumlah Pokok. Bunga Obligasi dibayarkan setiap 3 (tiga) bulan sesuai dengan Tanggal Pembayaran Bunga. Pembayaran Bunga Obligasi pertama akan dilakukan pada tanggal 19 Oktober 2016 sedangkan pembayaran Bunga Obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo Obligasi masing-masing adalah pada tanggal 19 Juli 2019 untuk Obligasi seri A, tanggal 19 Juli 2021 untuk Obligasi seri B dan tanggal 19 Juli 2023 untuk Obligasi Seri C.

Perseroan berencana melakukan penerbitan Obligasi sebanyak banyaknya Rp 2.000.000.000.000,- (dua triliun Rupiah) dengan rencana penggunaan dana setelah dikurangi biaya-biaya emisi, seluruhnya akan digunakan Perseroan untuk kegiatan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur.

Pada aksi korporasi ini Perseroan bekerjasama dengan PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, PT DBS Vickers Securities dan PT Indo Premier Securities yang bertindak sebagai Penjamin Pelaksana Emisi, sedangkan Lembaga dan Profesi Penunjang lainnya adalah :

  • Konsultan Hukum         : Kantor Konsultan Hukum Assegaf Hamzah & Partners
  • Auditor Independen      : Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja
  • Wali Amanat                  : PT Bank Mega Tbk
  • Notaris                            : Ir. Nanette Cahyanie Handari Adiwarsito, S.H.

Perseroan dan Penjamin Pelaksana Emisi merencanakan (Perkiraan) masa penawaran awal (Book Building)  dari tanggal 8 – 17 Juni 2016, Masa Penawaran umum 1 -14 Juli 2016 dan Pencatatan di BEI pada tanggal  20 Juli 2016

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi :

PT Indonesia Infrastructure Finance

Investor Relation

Gedung The Energy Lantai 30

Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53

Jakarta 12190

Telepon: +6221 2991 5060, Faksimili: +6221 2991 5061

Website: www.iif.co.id

Email: corsec@iif.co.id

Indonesia Infrastructure Finance Biayai Pembangkit Listrik Energi Baru Terbarukan

Jakarta, 12 January 2016

IIF Sewatama

Indonesia Infrastructure Finance Biayai Pembangkit Listrik Energi Bersih dan Baru Terbarukan

~Akhir Desember lalu, memberikan suntikan modal Rp 300 miliar ke PT Sumberdaya Sewatama, salah satu perusahaan pembangkit listrik nasional~

Jakarta, 12 Januari 2016- PT Indonesia Infrastructure Finance (“IIF”), perusahaan pembiayaan non-bank yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), semakin gencar menyalurkan dananya untuk pembangunan infrastruktur strategis. Menurut Sukatmo Padmosukarso, Presiden Direktur & Chief Executive Officer IIF, “Kami memberikan dukungan finansial bagi perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur yang digagas dengan baik dan layak secara komersial. Salah satunya adalah proyek pembangkit listrik yang menggunakan energi bersih dan baru terbarukan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (12/1).

 

Sukatmo melanjutkan, selain sebagai salah satu infrastruktur strategis, pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan energi bersih dan baru terbarukan juga merupakan proyek infrastruktur yang senantiasa menerapkan dan mengutamakan prinsip pengelolaan lingkungan. Hal ini sejalan dengan prinsip social and environment yang diterapkan oleh IIF bahwa setiap proyek yang dibiayai oleh IIF harus dapat ikut bertanggung jawab atas kondisi sosial dan lingkungan yang ikut terdampak dari pembangunan infrastruktur tersebut.

“Besar harapan kami bahwa apa yang telah kami terapkan dapat menjadi benchmark atau acuan bagi perusahaan lainnya untuk termotivasi dalam membangun infrastruktur di Indonesia yang bertanggung jawab terhadap kondisi sosial dan lingkungan di sekitarnya. Kami yakin, proyek semacam ini akan terus berkembang di masa mendatang,” ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Sukatmo menyatakan, penyaluran dana yang dilakukan oleh IIF ke sektor ketenagalistrikan merupakan bentuk dukungan nyata IIF untuk menyukseskan program pembangunan listrik 35.000 MW. Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Sudirman Said, Juli 2015 lalu menyatakan, untuk pembangkit listrik tenaga energi bersih dan baru terbarukan nanti porsinya mencapai 8.000 MW atau sekitar 25% dari keseluruhan program itu. Sementara itu, bila merujuk pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2014-2024 yang dibuat oleh PT Perusahaan Listrik Negara, untuk energi terbarukan dalam skala kecil (termasuk biomassa, biogas, minihidro dan tenaga surya) berkisar hingga 400 MW.

“Sebagai salahsatu investor kami melihat, sektor ini cukup menjanjikan secara komersial. Dampaknya pun baik bila melihat dari segi pemanfaatan lingkungan. Kami meminta dukungan penuh pemerintah agar sektor ini juga bisa berjalan dengan baik. Misalnya soal tarif yang sesuai mengingat untuk membangun pembangkit listrik menggunakan energi bersih dan baru terbarukan lebih mahal ketimbang dengan energi fosil,” papar Sukatmo lagi.

Perihal tingginya biaya pembangunan pembangkit listrik tenaga energi bersih dan baru terbarukan, diakui Elan B. Fuadi, Direktur Utama PT Sumberdaya Sewatama (“Perseroan”) (IDX: SSMM). Menurutnya, untuk membangun pembangkit listrik energi baru terbarukan seperti Pembangkit listrik tenaga minihidro maupun pembangkit listrik biogas dibutuhkan biaya paling tidak US$2-2,5 juta atau sekitar Rp27.000.000.000 (dua puluh tujuh miliar rupiah) untuk setiap 1 MW. “Jika membangun pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara, US$1,5 juta untuk setiap 1 MW,” sebutnya.

Oleh karena itu, Elan menyambut baik apa yang dilakukan oleh IIF untuk turut serta membiayai proyek-proyek semacam ini. Ia melihat, turut sertanya investor dalam bidang ketenagalistrikan energi bersih dan baru terbarukan merupakan sinyal positif untuk menjadikan energi hijau sebagai pilihan utama di masa datang.

Sebelumnya, pada akhir 30 Desember 2015 lalu, IIF menyepakati penyertaan setoran modal sebesar Rp 300.000.000.000 (tiga ratus miliar rupiah) dalam bentuk Mandatory Convertible Bond dengan jangka waktu selama 5 tahun kepada PT. Sumberdaya Sewatama. Kucuran dana tersebut rencananya akan digunakan untuk membiayai pembangunan proyek-proyek pembangkit tenaga listrik menggunakan bahan bakar energi bersih dan baru terbarukan yang disiapkan Perseroan.

Atas kesepakatan ini, Elan B. Fuadi, menyatakan, “Kami sangat senang perusahaan kami dipercaya oleh lembaga terkemuka seperti IIF yang senantiasa mendukung pembiayaan proyek ketenagalistrikan yang sedang kami jalankan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Elan mengatakan bahwa kerjasama ini akan memberikan cakrawala baru bagi cara beroperasinya  Perusahaan. “Selain menambahkan konfiden yang tinggi terhadap tim kami yang sedang menggarap berbagai proyek listrik berbasis energi baru terbarukan, ini akan membantu memperbaiki struktur permodalan kami, dan memberikan ruang bergerak yang lebih luas. Tidak hanya itu, bagi mitra kami, IIF, kerjasama ini akan memberikan keuntungan melalui pendapatan hasil investasi yang lebih baik.”

Sewatama sendiri sebagai salah satu perusahaan ketenagalistrikan nasional, menargetkan bisa membangun pembangkit listrik tenaga minihidro hingga 50 MW dalam jangka waktu 5 tahun mendatang di Sulawesi Selatan. Dalam rencana Sewatama, untuk lima tahun mendatang, Perseroan akan menyeimbangkan portofolio bisnisnya. Untuk ranah energi baru terbarukan, Perseroan juga sudah mengantongi proyek kerjasama pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar limbah kelapa sawit (PLTBg) dengan beberapa perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan dengan kapasitas 5 MW. Di Nusa Tenggara Timur, Sewatama juga sudah menyelesaikan pelaksanaan studi tahap awal untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dengan kapasitas 3 MW.

Selain itu, Perseroan juga sudah menelurkan kerjasama inovatif dengan Caterpillar Inc. melalui pembangunan pembangkit listrik hybrid terbarukan yang menggabungkan berbagai bauran energy dalam satu kelompok pembangkitan listrik. “Pembangkit listrik hybrid semacam ini ramah lingkungan karena bisa menghemat pemakain bahan bakar fosil. Selain itu penggunaannya cocok dengan kondisi lingkungan di Indonesia,” sebut Elan lagi.

 

*****

Tentang PT Indonesia Infrastructure Finance

IIF adalah perusahaan swasta nasional berupa Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur yang didirikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 100/PMK.010/2009 tentang Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur, yang dikelola secara profesional dengan fokus untuk berinvestasi pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Pendirian IIF merupakan salah satu elemen penting di dalam pengembangan strategis oleh Pemerintah Indonesia bersama dengan mitra dari lembaga keuangan internasional untuk mengatasi hambatan arus investasi swasta di sektor infrastruktur. Sebagai badan usaha berorientasi komersial, IIF menyediakan produk fund based seperti pinjaman jangka panjang, produk non-fund based seperti penjaminan serta layanan lainnya yang berkaitan dengan proyek infrastruktur. IIF diharapkan akan berkembang menjadi repositori nasional dalam menggalang pengalaman dan keahlian yang berkaitan dengan pengembangan dan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang layak, termasuk proyek-proyek yang berbasis Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).

IIF didukung oleh Pemerintah dan Lembaga-Lembaga multilateral dunia yang tercermin dalam kepemilikan saham IIF, yakni Pemerintah Indonesia melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) bersama dengan Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC), Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Disamping itu IIF juga mendapat dukungan pinjaman dari Bank Dunia (World Bank) dan ADB.

Tentang PT. Sumberdaya Sewatama

PT Sumberdaya Sewatama (“IDX: SSMM”) adalah perusahaan IPP yang bernaung dalam Tiara Marga Trakindo Grup dan anak usaha perusahaan energi terintegrasi PT ABM Investama Tbk. Didirikan tahun 1992, Sewatama memiliki visi untuk menjadi perusahaan terdepan dan terkemuka di bidangnya.

Lini bisnis Sewatama dibagi menjadi 4 bagian: Temporary Power (Listrik Sementara), Operations and Maintenance (operasional dan pemeliharaan aset ketenagalistrikan), Energy Efficiency Services (Layanan Efisiensi Energy Kelistrikan), serta Long Term Power Solutions (Solusi Listrik Jangka Panjang) — menjadikan Perseroan sebagai satu satunya perusahaan terintegrasi dibidang penyediaan jasa solusi ketenagalistrikan di Indonesia.

Tidak hanya itu, melalui anak usahanya, PT Pradipa Aryasatya dan PT Nagata Bisma Shakti, Sewatama memasuki bisnis IPP (Independent Power Producer) menggunakan bahan bakar fossil dan energi baru terbarukan. Kiprah pengembangan kedua anak perusahaan tersebut dilakukan melalui akuisisi 20% saham PLTGU berkapasitas 110MW MEPPOGEN di Sumatera Selatan, PLTU PT Energi Alamraya Semesta (EAS) di Aceh sebesar 15MW serta dalam proses pengembangan berbagai proyek berbasis energi baru terbarukan menggunakan energi air di Sulawesi Selatan hingga mencapai 50 MW, proyek pembangunan pembangkit listrik menggunakan limbah kelapa sawit (PLTBg) di Kalimantan untuk memenuhi kebutuhan listrik perumahan dan industri di wilayah setempat.

Sewatama berhasil meraih predikat Best Brand 2015 pada kategori Power Infrastructure Solution dari PT Mars Indonesia. Penghargaan ini disematkan pada perusahaan-perusahaan yang mempunyai reputasi terbaik di bidangnya. Hubungi Hotline 24 jam di 0800-1821-301 untuk berbagai layanan pembangkitan, pemeliharaan dan pengoperasian mesin pembangkit.

***

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Nastantio W. Hadi

Legal and Corporate Secretary

PT Indonesia Infrastructure Finance

Telp :+62 21 29915060

Fax  :+62 21 29915061

e-mail : corsec@iif.co.id

Nadia Diposanjoyo

Head of Corporate  Affairs & Corporate Secretary

PT. Sumberdaya Sewatama

Telp.     : (021) 2997 6712

e-mail   : corsec.sewatama@sewatama.com

 

PT Indonesia Infrastructure Finance Tetap Fokus dalam Mendorong Pembiayaan Proyek Infrastruktur di Indonesia

Jakarta, 28 December 2015

PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) pada hari ini, Selasa, 8 Desember 2015 menyelenggarakan Year-End Gathering bersama para klien, mitra kerja dan pemangku kepentingan. Acara ini diselenggarakan untuk mensyukuri tahun 2015 yang merupakan bagian dari tahapan perjalanan IIF untuk menjadi lembaga pembiayaan serta penyedia layanan konsultan/advisory yang terdepan dan terfokus untuk menjadi katalisator dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Selama tahun 2015, IIF terus melanjutkan kontribusinya pada proyek-proyek infrastruktur yang dibutuhkan dalam pembangunan Indonesia. IIF terlibat aktif dalam pembiayaan pengembangan proyek-proyek bandar udara, pelabuhan, kelistrikan, telekomunikasi, dan minyak dan gas bumi. IIF juga berperan aktif dalam membantu pemerintah daerah maupun sektor swasta dalam mempersiapkan proyek-proyek infrastruktur untuk dapat berlangsung melalui penyediaan layanan konsultan/advisory.

Dari sisi nilai pembiayaan, sampai dengan November 2015, IIF telah berhasil membukukan komitmen pembiayaan sebesar hampir Rp 5 triliun, baik dalam bentuk utang maupun ekuitas. Presiden Direktur IIF, Bp. Sukatmo Padmosukarso mengatakan, “IIF terus berperan aktif dalam menyediakan pembiayaan jangka panjang kepada proyek-proyek infrastruktur di Indonesia, baik dalam mata uang Rupiah maupun US Dollar, yang kami berikan dalam bentuk utang hingga ekuitas, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik proyek infrastruktur yang dibiayai. Kami mengharapkan bahwa para pemilik dan pengembang proyek-proyek infrastruktur dapat terbantu dengan fleksibilitas pembiayaan yang kami tawarkan. Tahun 2016 IIF menargetkan pertumbuhan komitmen sampai sejumlah Rp 10 trilliun”

Bp. Sukatmo lebih lanjut menambahkan, “Kehadiran kami di bidang pembiayaan infrastruktur bukan untuk menggantikan sumber-sumber pembiayaan yang sudah ada, namun lebih kepada menciptakan sinergi dengan penyedia-penyedia dana pembangunan infrastruktur lainnya sehingga struktur pembiayaan proyek infrastruktur tersebut menjadi lebih commercially viable. Inilah fungsi katalisator pembangunan infrastruktur yang kami kembangkan.”

Acara ini juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia, Bapak Bambang P. S. Brodjonegoro. Beliau sangat antusias sebagaimana disampaikan dalam sambutannya, “Keberadaan IIF didukung penuh oleh Pemerintah untuk menjalankan fungsinya sebagai katalisator pembangunan infrastruktur di Indonesia yang diharapkan akan menarik partisipasi dari sektor private baik dalam maupun luar negeri untuk percepatan pembangunan infrastuktur di Indonesia mengingat infrastruktur adalah salah satu faktor yang sangat penting tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi namun juga untuk kemakmuran rakyat Indonesia.”

Komposisi pemegang saham saat ini, selain memberikan jaminan kapitalisasi yang sangat kuat bagi IIF untuk mendukung pengembangan portfolio pembiayaannya, juga merupakan partner yang kuat untuk mendorong pembiayaan infrastruktur di Indonesia, termasuk proyek – proyek yang bersifat Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS).

Di sisi layanan jasa konsultan/advisory, IIF menawarkan layanan ini baik kepada swasta maupun kepada pemerintah. Khusus untuk jasa advisory kepada pemerintah, IIF secara signifikan telah berperan dalam pengembangan skema Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) di Indonesia, baik dari sisi penyiapan kebijakan maupun dari sisi pengembangan proyek-proyek KPS itu sendiri.

IIF juga akan membantu pemerintah dalam mengembangkan infrastruktur di Indonesia, yang dapat berguna bagi kepentingan rakyat Indonesia. Sebagaimana dinyatakan oleh Bp. Sukatmo Padmosukarso, “IIF saat ini sudah mulai menjadi salah satu rujukan dalam masalah pembiayaan infrastruktur di Indonesia. Kami berharap untuk terus dapat mengembangkan perusahaan ini sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan saat pendirian IIF oleh Pemerintah Indonesia dan para lembaga multilateral.”

Tentang PT Indonesia Infrastructure Finance

IIF adalah suatu perusahaan nasional berbentuk perusahaan pembiayaan infrastruktur, yang dikelola secara profesional dengan fokus untuk berpartisipasi aktif pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Pendirian IIF merupakan salah satu elemen penting dalam rencana strategis Pemerintah Indonesia bersama dengan mitra dari lembaga keuangan internasonal dalam mengatasi hambatan arus investasi untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

IIF didukung oleh Pemerintah dan Lembaga-Lembaga multilateral dunia yang tercermin dalam kepemilikan saham IIF, yakni Pemerintah Indonesia, melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) bersama dengan Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC), Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Disamping itu IIF juga mendapat dukungan pinjaman dari World Bank, ADB, dan dari perbankan internasional.

Informasi lebih lanjut, hubungi:

Nastantio W. Hadi

Legal & Corporate Secretary
PT. Indonesia Infrastructure Finance
Phone  : +62 21-29915057
Fax       : +62 21-29915061
Email   : corsec@iif.co.id
Website: www.iif.co.id

PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Indonesia Infrastructure Finance Sepakati Fasilitas Pinjaman

Jakarta, 27 July 2015

Siaran Pers
PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Indonesia Infrastructure Finance
Sepakati Fasilitas Pinjaman

TANGERANG, 15 Juli 2015 – PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Indonesia Infrastructure Finance atau IIF pada hari ini melakukan penandatanganan perjanjian fasilitas pinjaman berjangka senilai Rp 400 miliar.
Pinjaman tersebut akan digunakan PT Angkasa Pura II (Persero) untuk pengembangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan bandara lain di bawah lingkungan perusahaan demi peningkatan pelayanan kepada masyarakat khususnya pengguna jasa transportasi udara. President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Budi Karya Sumadi mengatakan, “Diraihnya pinjaman dari pihak kedua, termasuk diantaranya dari IIF, merupakan suatu bentuk kepercayaan terhadap PT Angkasa Pura II (Persero) atas rencana-rencana pengembangan bandara. Melalui pinjaman dari IIF ini, maka juga didapat kepastian pendanaan untuk pengembangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan bandara-bandara lainnya.”

AP1AP2

“Kami memohon dukungan dari seluruh pihak agar pembangunan Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat berjalan lancar sehingga mulai beroperasi tahun depan dimana saat ini progres pembangunan telah mencapai hampir 80%,” tambah Budi Karya Sumadi.
Selain Terminal 3 Ultimate, pembangunan infrastruktur lain yang menjadi prioritas di Bandara Internasional Soekarno-Hatta diantaranya adalah stasiun untuk akses kereta bandara dan pengadaan moda transportasi otomatis antarterminal di bandara atau automated people mover system (APMS).

Adapun berbagai pembangunan infrastruktur yang dilakukan di seluruh bandara di bawah lingkungan PT Angkasa Pura II (Persero) juga mempertimbangkan faktor sosial dan lingkungan sekitar.
“IIF dan AP II sepakat bahwa pengerjaan proyek ini senantiasa menerapkan dan mengutamakan prinsip pengelolaan lingkungan dan prinsip keselamatan yang tinggi, sehingga kondisi sosial dan lingkungan yang ikut terdampak dari pembangunan infrastruktur bandara ini terjaga sesuai standar IIF yang bertaraf internasional. Hal ini merupakan benchmark atau acuan bagi perusahaan lain untuk termotivasi membangun infrastruktur di Indonesia yang bertanggung jawab terhadap kondisi sosial dan lingkungan di sekitarnya,” menurut Sukatmo Padmosukarso selaku President Director IIF.

Tentang PT Angkasa Pura II (Persero)
Angkasa Pura II adalah BUMN di bidang pelayanan jasa kebandarudaraan dan pelayanan jasa terkait bandar udara di wilayah Indonesia Barat. Angkasa Pura II telah mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah Republik Indonesia untuk mengelola dan mengupayakan pengusahaan Pelabuhan Udara Jakarta Cengkareng yang kini berubah nama menjadi Bandara Internasional Jakarta Soekarno-Hatta serta Bandara Halim Perdanakusuma sejak 13 Agustus 1984.
Saat ini Angkasa Pura II mengelola 13 bandara yakni Soekarno-Hatta (Jakarta), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Kualanamu (Medan), Supadio (Pontianak), Minangkabau (Padang), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Husein Sastranegara (Bandung), Sultan Iskandarmuda (Banda Aceh), Raja Haji Fisabilillah (Tanjungpinang), Sultan Thaha (Jambi), Depati Amir (Pangkal Pinang) dan Silangit (Tapanuli Utara).

Tentang IIF
IIF adalah perusahaan swasta nasional berbentuk Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 100/2009, yang dikelola secara profesional dengan fokus untuk berinvestasi pada proyek-proyek infrastruktur yang layak secara komersial. Pendirian IIF merupakan salah satu elemen penting di dalam pengembangan strategis oleh Pemerintah Indonesia bersama dengan mitra dari lembaga keuangan internasional untuk mengatasi hambatan arus investasi swasta di sektor infrastruktur. Sebagai badan usaha berorientasi komersial, IIF menyediakan produk fund based seperti pinjaman jangka panjang, produk non-fund based seperti penjaminan serta layanan lainnya yang berkaitan dengan proyek infrastruktur. IIF diharapkan akan berkembang menjadi repositori nasional dalam menggalang pengalaman dan keahlian yang berkaitan dengan pengembangan dan pembiayaan proyek-proyek infrastruktur yang layak, termasuk proyek-proyek yang berbasis Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS).

IIF didukung oleh Pemerintah dan Lembaga-Lembaga multilateral dunia yang tercermin dalam kepemilikan saham IIF, yakni Pemerintah Indonesia, melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) bersama dengan Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC), Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Disamping itu IIF juga mendapat dukungan pinjaman dari World Bank dan ADB.

Jakarta, April 2015, 21 April 2015

Jakarta, April 2015 – PT Indonesia Infrastructure Finance telah melakukan penandatanganan perjanjian fasilitas pembiayaan infrastruktur sebesar USD 47 Juta untuk proyek Konstruksi Pipa Gas Bawah Laut sepanjang 13,5Km dari Pulau Pemping ke Tanjung Uncang, Batam dengan kapasitas gas yang dapat diangkut hingga mencapai 55 MMSCFD. Pembiayaan tersebut termasuk pembiayaan atas konstruksi Jumper / Connection Line sepanjang 300 meter di pulau Pemping yang akan menghubungkan Pipa Gas Bawah Laut tersebut dengan sistem pipa terpasang milik PT Transportasi Gas Indonesia (“TGI”) yang mengoperasikan ruas wilayah sistem pipa Grissik dari titik terima di Grissik, Sumatera Selatan dengan titik serah yang terletak di batas wilayah RI dengan Singapura. Dalam pembiayaan fasilitas ini, IIF melakukan kredit sindikasi dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero). Sementara PT Bank Permata Tbk akan bertindak sebagai agen fasilitas, agen penampungan, dan agen penjaminan atas fasilitas pembiayaan ini.

Meskipun saat ini pembangunan pipa gas bawah laut tersebut masih terdedikasi dengan Pembangkit Listrik milik PLN-Batam di Tanjung Uncang, Batam, namun kedepannya pipa gas bawah laut tersebut diharapkan akan di buka untuk Pembangkit Listrik di daerah lainnya. Hal ini tentu akan membuka peluang sebesar – besar nya bagi penyediaan ketenagalistrikan di daerah Batam pada khusus nya.

Pembangunan pipa gas bawah laut ini merupakan terobosan untuk mendorong pembangunan infrastruktur lainnya serta mempercepat produksi dan pendistribusian gas di daerah Sumatera. Dengan ada nya pipa gas bawah laut ini, akan dapat mengalirkan berbagai sumber produksi gas hulu yang dikerjakan oleh para Kontraktor Kontrak Kerjasama (“KKKS”) terutama di Lapangan Grissik dan Jabung di Sumatera Selatan, serta Jambi Merang di Jambi Selatan.

Pembangunan pipa gas ini juga merupakan jawaban dari keinginan masyarakat agar mereka dapat lebih memanfaatkan gas untuk memenuhi kebutuhannya dan melepaskan ketergantungan dengan sumber daya alam yang semakin terbatas terutama energi minyak dan batu bara.

Atas pencapaian yang positif ini, IIF dalam usianya yang relatif masih muda telah berhasil untuk membantu mendorong pembangunan infrastruktur dengan semakin menunjukkan komitmennya sebagai katalisator percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, IIF juga menjamin pengerjaan proyek ini senantiasa dilakukan dalam prinsip prinsip berwawasan lingkungan, sehingga setiap proyek yang dibiayai oleh IIF dapat ikut bertanggung jawab atas kondisi sosial dan lingkungan yang ikut terdampak dari pembangunan infrastruktur tersebut. Hal ini juga diharapkan bisa menjadi benchmark atau acuan bagi perusahaan lainnya untuk termotivasi dalam membangun infrastruktur di Indonesia yang bertanggung jawab terhadap kondisi sosial dan lingkungan di sekitarnya.

IIF has begin its participation in financing Indonesia's s infrastructure

Jakarta, 26 September 2012

PT Indonesia Infrastructure Finance today signed a Rp 8.8 trillion 15-year financing agreement for the Cikampek  – alimanan Toll Road project in West Java, with a participation of Rp 500 billion. The syndication consisted of 21 banks and financial institutions, including BCA, Bank DKI, Bank BJB (along with other Regional Development Banks), Panin Bank and ICBC. The borrower, Lintas Marga Sedaya, is majority owned by PLUS of Malaysia.

The Cikampek-Palimanan Toll Road, with a total length of 116 km, will consist of six sections with a total investment of Rp 12.6 trillion.

Cikampek-Palimanan will be operational in 2014 and is expected to form a vital part of Indonesia’s road infrastructure, given that it is an entry point for the Trans-Java network that connects Jakarta and other provinces on the island of Java. Additionally, the new road will connect two existing toll roads that are already in operation, namely Jakarta-Cikampek and Palimanan-Kanci, which in turn is connected with Kanci-Pejagan.

he President Director of IIF, Kartika Wirjoatmodjo, said that with this signing IIF has started to show its commitment as a catalyst in financing infrastructure projects that are viable and well conceived.

With its financing and advisory capacities, IIF constantly strives to support the Government of Indonesia in the provision of infrastructure to support continued economic development. In view of the limited state budget available to fund infrastructure development, the Government is actively encouraging the implementation and development of projects through private sector involvement.

About IIF

IIF is a national company in the form of an infrastructure financing company, professionally managed with a focus on active participation in infrastructure projects that are commercially viable. The establishment of IIF is one of the important elements in the Government of Indonesia’s strategic plan. In partnership with a number of multilateral financial institutions, IIF is intended to overcome barriers in investment flows to boost infrastructure development in Indonesia.

IIF is supported by the Government and non-governmental multilateral institutions, which is reflected in its shareholders, which comprise: the Government of Indonesia, through Sarana Multi Infrastruktur (SMI) along with the Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC), Deutsche Investitions -und Entwicklungsgesellschaft mbH (DEG) and Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). In addition, IIF has received support in the form of loans from the World Bank and ADB.

For further information please contact:

Nastantio Hadi

Corporate Secretary

PT Indonesia Infrastructure Finance

Telp :+62 21 29915060

Fax  :+62 21 29915061