Jakarta, 22 Agustus 2025 – Memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sejak proklamasi 1945 hingga 2025, infrastruktur telah menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan integrasi nasional.
Delapan dekade terakhir menunjukkan transformasi luar biasa. Pada masa awal kemerdekaan, pembangunan infrastruktur berfokus pada jalan raya, jembatan, bendungan, dan irigasi untuk menopang ketahanan pangan. Era Orde Baru menandai percepatan pembangunan jalan nasional, pembangkit listrik, serta jalan tol pertama, Jagorawi, yang diresmikan pada tahun 1978.
Era Reformasi kemudian membuka babak baru dengan keterlibatan swasta melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), seiring meningkatnya kebutuhan investasi. Satu dekade terakhir, infrastruktur menjadi agenda prioritas nasional.
Selama 10 tahun terakhir, Pemerintah sendiri berhasil merealisasikan 2.103 km jalan tol, 40 bendungan, 27 bandara baru, serta proyek besar lainnya seperti jalur kereta api dan Ibu Kota Nusantara (IKN). Tak hanya itu, konektivitas antarwilayah diperkuat dengan pembangunan jalur Trans-Papua, Trans-Kalimantan, dan Trans-Sumatra, yang dirancang untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi.
Pembangunan infrastruktur membawa manfaat nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Kontribusi sektor konstruksi dalam perekonomian Indonesia berada pada urutan keempat yang dilihat dari persentase sektor konstruksi pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar 10,43 persen pada triwulan IV tahun 2024.
Dari sisi energi listrik, rasio elektrifikasi nasional kini mencapai 99,83% di akhir 2024, sehingga hampir seluruh rumah tangga Indonesia memiliki akses listrik.
Selain itu, data Badan Pusat Statistik dan Bappenas (2024) mencatat bahwa Indonesia telah mencapai 62,5% target indikator Target Pembangunan Berkelanjutan/SDGs, jauh di atas capaian global sebesar 17%.
Delapan dekade pembangunan infrastruktur Indonesia menunjukkan capaian besar, sekaligus menegaskan besarnya kebutuhan pembiayaan yang tidak mungkin dipenuhi pemerintah sendiri. Di sinilah peran sektor swasta dan institusi pembiayaan infrastruktur menjadi krusial.
Sejak berdiri pada 2010, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) telah menjadi mitra strategis pemerintah dan swasta dalam menjawab tantangan pendanaan proyek infrastruktur.
Hingga akhir 2024, IIF telah berkontribusi menyalurkan sekitar Rp42,5 triliun pembiayaan untuk lebih dari 150 proyek infrastruktur strategis. Dukungan ini mencakup sektor transportasi, energi, telekomunikasi, air bersih dan sektor-sektor prioritas lainnya. Beberapa capaian utama:
• Proyek-proyek pembangkit listrik dengan total kapasitas produksi mencapai 709,9 MW, menjangkau lebih dari 709.000 rumah tangga atau sekitar 3,5 juta jiwa. Sektor ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 4,924 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun, setara dengan pengurangan emisi dari 172.000 pohon yang ditanam sampai dengan tahun 2025.
• Sektor Transportasi: Jalan tol dan akses strategis sepanjang ratusan kilometer.
• Sektor Air bersih: sektor penyediaan air minum, proyek yang dibiayai IIF telah menambah kapasitas distribusi air bersih hingga 27.501 liter per detik, melayani sekitar 1,39 juta rumah tangga atau lebih dari 6,78 juta penduduk di berbagai wilayah di Indonesia.
• Sektor Kesehatan: pembangunan fasilitas layanan kesehatan yang kini telah menyediakan 1.051 tempat tidur rawat inap dan mampu melayani lebih dari 351.000 pasien rawat jalan setiap tahunnya.
Chief Investment Officer IIF, M. Ramadhan Harahap (Idhan), menyampaikan,
“Momentum 80 tahun kemerdekaan adalah waktu untuk merefleksikan perjalanan panjang pembangunan negeri. Infrastruktur telah mengubah wajah Indonesia, dari keterbatasan di masa awal kemerdekaan hingga konektivitas modern saat ini. IIF bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan ini dengan mendukung pembiayaan proyek-proyek yang memberi manfaat nyata, baik dari aspek ekonomi, sosial maupun lingkungan”
Dirgahayu RI ke-80 menjadi titik refleksi dan pijakan menuju Indonesia Emas 2045. Dengan kapasitas pembiayaan yang tetap berpegang teguh pada prinsip ESG, IIF akan terus berperan sebagai mitra strategis pemerintah dan swasta dalam membangun infrastruktur Indonesia yang berkelanjutan.
PT Indonesia Infrastructure Finance
PT Indonesia Infrastructure Finance (“IIF”) adalah lembaga keuangan swasta non-bank, yang bergerak dalam pembiayaan infrastruktur dan layanan konsultasi yang dikelola secara profesional dan berfokus pada proyek- proyek infrastruktur yang layak secara komersial. IIF didirikan pada 15 Januari 2010 atas inisiatif Pemerintah Republik Indonesia bersama dengan lembaga keuangan internasional. Saat ini kepemilikan IIF adalah PT Sarana Multi Infrastruktur/SMI (Persero), Asian Development Bank (ADB), International Finance Corporation (IFC) yang merupakan bagian dari World Bank, Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft (DEG) yang sepenuhnya dimiliki oleh KfW, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC).
Dalam kegiatan usahanya, IIF menerapkan praktik terbaik berdasarkan standar internasional dalam memberikan kredit, tata kelola perusahaan, dan dalam menerapkan standar perlindungan sosial dan lingkungan untuk memastikan keberlanjutan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Informasi lebih lanjut:
Nastantio W. Hadi
Head of Legal and Corporate Secretary Division
PT Indonesia Infrastructure Finance
Telp: (021) 2991 5060;
Fax: (021) 2991 5061;
E-mail: [email protected]
Social Media:
•Instagram: @pt_iif
•LinkedIn: IndonesiaInfrastructureFinance
">